DDoS membanjiri jaringan atau aplikasi dengan trafik sehingga pengunjung sah kesulitan mengakses website. Lonjakan trafik belum selalu berarti DDoS; bisa juga bot crawler, promosi, atau proses aplikasi yang berat.
Gejala yang sering terlihat
- Bandwidth, request per second, atau koneksi meningkat tajam.
- Banyak request berasal dari pola user-agent, negara, ASN, atau URL yang sama.
- CPU dan worker web penuh walaupun trafik manusia tidak meningkat.
- Website lambat dari banyak jaringan atau menghasilkan 502, 503, dan timeout.
- Firewall atau CDN mencatat lonjakan blocked request.
Pemeriksaan awal di VPS
uptime
ss -s
sudo ss -ant state established | wc -l
sudo tail -n 5000 /var/log/nginx/access.log | awk '{print $1}' | sort | uniq -c | sort -nr | headBedakan serangan jaringan dan aplikasi
Serangan volumetrik memenuhi bandwidth dan biasanya harus ditangani upstream. Serangan layer 7 menargetkan URL seperti login, pencarian, API, atau halaman dinamis sehingga worker aplikasi habis walaupun bandwidth tidak terlalu besar.
Mitigasi
- Aktifkan CDN dan proxy seperti Cloudflare.
- Gunakan WAF, rate limiting, bot protection, dan challenge.
- Cache halaman publik agar request tidak selalu masuk ke PHP dan database.
- Blokir pola request berbahaya, bukan hanya satu IP.
- Hubungi provider untuk perlindungan DDoS jaringan jika bandwidth server penuh.
Setelah serangan
Simpan log dan timeline, identifikasi endpoint termahal, perbaiki aturan rate limit, uji origin agar tidak dapat diakses langsung, dan buat alert berdasarkan request rate, error rate, CPU, serta koneksi.






